PIRU, INVESTIGASIMALUKU.COM – Kesenjangan mutu pendidikan di Indonesia khususnya di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) provinsi Maluku tak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi keluarga saja, tetapi juga oleh ketimpangan sarana dan prasarana pendidikan yang belum merata.
SD Muhammadiyah Papora, Desa Luhu, Kecamatan Huamual salah satu sekolah yang hingga saat ini masih mengalami kesenjangan mutu pendidikan.
Kepala SD Muhammadiyah Papora, Reis Attamimi,S.Pd yang di konfirmasi Investigasimaluku.com, Rabu (25/2/2026) menjelaskan, meskipun sekolah yang di pimpinnya itu mengalami kekurangan sarana dan prasarana, namun proses belajar mengajar berjalan seperti layaknya sekolah – sekolah lainnya.
“ Bagi saya, kekurangan sarana dan prasarana pendidikan bukan menjadi faktor penghalang, tetapi upaya pembenahan pendidikan terus kita lakukan, “ ucap Attamimi.
Attamimi menjelaskan, ketimpangan mutu pendidikan antar wilayah di Maluku juga memperlihatkan bahwa kebijakan pendidikan belum sepenuhnya berpihak pada pemerataan. Dimana siswa di daerah tertinggal tidak hanya tertinggal secara fasilitas, tetapi juga dalam akses terhadap guru berkualitas dan sumber belajar yang memadai.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka program-program pendukung seperti Makan Bergizi Gratis hanya akan menjadi pelengkap tanpa mampu menyentuh akar masalah.
Karena itu, dia mengaku, fenomena ini menunjukkan bahwa persolaan pendidikan di Kabupaten SBB masih bersifat sistematik dan tidak dapat terselesaikan melalui satu kebutuhan tunggal.
Dengan demikian, lanjut dia, selain fasilitas, kualitas dan kesejahteraan guru juga masih menjadi persoalan krusial. Guru memiliki peran sentral dalam menentukan kualitas pendidikan, namun hingga kini masih banyak guru yang menghadapi keterbatasan kesejahteraan dan kesempatan pengembangan profesional.
“ Rendahnya dukungan terhadap peningkatan kompetensi guru berdampak sekali pada kualitas pembelajaran di sekolah. Tanpa guru yang berkualitas dan sejahtera maka kebijkaan pendidikan apa pun akan sulit mencapai hasil optimal, “ ujarnya.
Kepsek yang dikenal ramah dan tegas ini menyebutkan bahwa sekolah yang didirikan tahun 2007 ini masih kekurangan sarana dan prasarana pendidikan seperti, ruang perpustakaan, ruang komputer, ruang UKS, komputer, air bersih maupun pagar sebagai ketahanan dan keamanan sekolahnya.
Pihaknya menambahkan, dengan jumlah guru 10 orang yang terdiri dari guru honor 3 orang, guru kontrak 2 orang dan PNS 5 orang masih mampu untuk mengimbangi jumlah siswa 80 orang dalam proses belajar mengajar.
“ Saya minta kepada Pemerintah Daerah maupun pihak terkait agar dapat membijaki kekurangan – kekurangan yang kami hadapi saat ini demi meningkatkan mutu pendidikan, “ pintanya. (IM-01)
